﴿ وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ
وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ﴾ ( طٰهٰ/20: 132)
Dalam
tafsirnya, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan perintah
Allah kepada Rasulullah untuk menegakkan salat bersama keluarganya sebagai
bentuk penyelamatan dari azab Ilahi. Kewajiban ini disertai dengan perintah
untuk bersabar dan konsisten dalam pelaksanaannya.[1]
Allah menegaskan bahwa rezeki bukanlah tanggung jawab manusia, melainkan
anugerah langsung dari-Nya, karena Dia adalah Maha Pemberi Rezeki dan Maha Kuat,
Dalam firman Allah Q.S adz- Dzaariyat ayat 51:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴾ [الذاريات :
٥٨/٥١]
Dengan
demikian, fokus utama seorang mukmin adalah beribadah dan bertakwa, sebab
kesudahan yang baik, yaitu surga, diperuntukkan bagi orang-orang yang taat dan
bertakwa.
Ayat
tersebut menegaskan bahwa menegakkan salat dengan penuh ketakwaan akan
mendatangkan rezeki dari arah yang tidak terduga sebagai bentuk karunia Allah. Dalam
Q.S Ath-Thalaq ayat 2-3:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾ [الطلاق: ٢/٦٥-٣]
Selain itu,
perintah Allah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya untuk melaksanakan salat
memiliki makna universal, yakni sebagai keteladanan dan kewajiban yang juga
berlaku bagi seluruh umat Islam.
Ibnu
Abi Hatim, Ibnu Mundzir, Ath-Thabrani, dan Abu Nu ‘aim dalam Al-Hilyah
meriwayatkan dari Abdullah bin Salam bahwa apabila Nabi Muhammad dan
keluarganya mengalami kesulitan atau kesempitan, beliau memerintahkan mereka
untuk melaksanakan salat, lalu beliau membaca ayat: “Dan perintahkanlah
keluargamu untuk melaksanakan salat.” Selain itu, At-Tirmidzi dan Ibnu
Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah bersabda: “Allah
Ta‘ala berfirman: Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku,
niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan menutupi kekuranganmu.
Tetapi jika engkau tidak melakukannya, Aku akan memenuhi dadamu dengan
kesibukan, dan tidak akan menutupi kekuranganmu.”[2]
Jadi
bahasanya kek gini, kamu shalat aja dulu, rezeki biar Aku yang urus. Tapi
disini jangan sampai kita salah paham bahwa Allah nyuruh kita pasif, enggak
gitu ya. Justru Allah mengajarkan prioritas. Bahwa yang pertama kali kita
jaga bukan strategi bisnis, namun koneksi spiritual. Karena sejatinya, rezeki
bukan hanya datang dari usaha semata namun ia datang dari yang menguasai
semesta. Tidak hanya sekedar shalat,
namun Allah juga mengingatkan dengan bahasa halus untuk bersabar, وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا. Karena
yang paling berat bukan memulai shalat, namun bersabar dan beristiqomah.
Kalau kira ngerasa udah usaha maksimal, tapi kok hasilnya gitu-gitu
aja, coba lihat lagi bagaimana shalat kita. Saat hidup lagi berat, dunia terasa
mendesak, hayuk coba lihat lagi bagaimana shalat kita. Kadang kita sibuk
mencari solusi, tanpa sadar untuk memperbaiki hubungan pada Ilahi. Karena
melalui shalat bukan hanya suatu kewajiban, namun sumber kekuatan bagi
ketenangan hati dan juga melapangkan jalan rezeki. “Ketika seseorang menjaga
shalatnya, maka Allah lah yang akan menjaga seluruh urusannya.”
Lebih universal lagi juga nih, rezeki tidak hanya sebatas materi,
namun mencakup beberapa segi. Cita-cita, skripsi mungkin, atau bahkan jodoh
hehe. Lagi pusing nulis skripsi, udah mentok berifikir, capek, bingung, yukk
lihat lagi shalat kita. Sudahkah kita memenuhi panggilan-Nya? Uslih nafsi wa
iyyakum. Untuk menjemput rezeki, jangan lupa untuk 3 hal yaitu berusaha,
berdoa, dan bertawakal. Kalau tidak hari ini, mungkin besok, mungkin lusa, atau
bahkan mungkin tahun depan. Namun ingat, bahwa Allah Maha Mendengar, akan
diberi ketika baik menurut-Nya, bukan menurut kita. Semuanya akan ada waktu
terbaiknya kok hehe.
Semangat pejuang keluarga, masa depan, skripsi, dan pejuang
lain-lainya hehe.
Komentar
Posting Komentar